Ia meyakini bahwa kepemimpinan yang baik berawal dari keteladanan dalam keseharian, perhatian yang tulus pada tim, dan terus berupaya melakukan perbaikan setiap hari.
Perjalanan karier Fu Fau dimulai jauh sebelum ia bersentuhan dengan dunia perkeretaapian. Usai lulus dari STAN pada 2001, ia memulai karier profesionalnya sebagai staf di Kementerian Keuangan, sebelum akhirnya berkarier di Badan Pemeriksa Keuangan. Dua belas tahun bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), pada 2013, ia mengambil langkah berbeda. Menanggalkan statusnya sebagai PNS dan bergabung ke PT Kereta Api Indonesia (Persero).
“Sebagai orang muda yang telah bekerja lebih dari 12 tahun dan yang dikerjakan itu-itu saja, saya merasa perlu tantangan baru. Ini yang menjadi pertimbangan saya bergabung ke KAI,” kenang Fu Fau.
Memasuki lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi pengalaman yang benar-benar baru, terutama baginya yang selama bertahun-tahun hidup dalam sistem birokrasi yang sangat struktural. Pada tahun pertamanya di KAI, ia merasakan masa transformasi organisasi yang dipimpin Ignatius Jonan, yang kala itu sangat menekankan kedisiplinan, integritas, dan keteladanan.
Ia masih ingat betul apa yang disampaikan oleh Jonan ketika ia dikumpulkan bersama ratusan pegawai KAI yang baru. “Saya tidak peduli pendidikan Anda, apakah S1, S2, atau S3. Di KAI, Anda akan memulainya dari nol. Yang saya lihat hanya kinerja kalian,” ujar Fu Fau menirukan perkataan Jonan saat ini.
Dalam pertemuan tersebut, ia juga mendapat insight mengenai ciri pemimpin yang baik. Seperti yang disampaikan Jonan, seorang pemimpin yang baik harus memiliki tiga kriteria, yakni memberi contoh, memerhatikan anak buahnya lebih dari dirinya sendiri, dan melakukan perbaikan terus-menerus setiap hari.
Tiga Karakter Kepemimpinan yang baik
Nilai-nilai tersebut kemudian membentuk prinsip kepemimpinannya. Ketika diamanahi sebagai VP Internal Audit KAI Commuter pada April 2025, ia senantiasa memberi teladan kepada timnya. Sebagai bentuk perhatian, ia memastikan pengembangan kompetensi timnya, serta mendorong percepatan karier bagi mereka yang menunjukkan kinerja terbaik, seperti menaikkan dua staf dari level supervisor ke asisten manajer.
“Selama 24 tahun bekerja, saya sudah sering melihat banyak karyawan yang dipromosikan karena kedekatan personal, kesamaan suku, atau almamater. Kalau saya, yang saya lihat itu kinerjanya. Kalau kinerjanya bagus, ya saya promosikan,” terang Fu Fau.
Jika ada staf yang belum menunjukkan kinerja baik, ia memilih memanggil dan mencari tahu penyebabnya. Bila diperlukan, ia memberikan pelatihan agar mereka dapat berkembang. Baginya, ketika anggota tim bertumbuh, kualitas kerja seluruh unit pun meningkat. Prinsip lain yang ia pegang adalah melakukan perbaikan terus-menerus setiap hari, dimulai dari langkah-langkah kecil tanpa harus menunggu perubahan besar.

Menguatkan Fungsi Advisory Internal Audit
Sebagai VP Internal Audit, ia memahami keberadaan Satuan Pengawas Internal kerap dianggap sebagai “watch dog” di dalam perusahaan. SPI identik dengan fungsi assurance, yakni memeriksa, menilai, dan mengevaluasi, yang membuat orang merasa diawasi. Secara alamiah, tidak ada seorang pun yang suka diawasi, terlebih disalahkan. Itulah mengapa SPI kerap dipersepsikan sebagai pihak yang mencari kesalahan tim lain.
Oleh karena itu, penting untuk menggeser cara pandang bahwa SPI tidak hanya berfungsi sebagai pemeriksa, tetapi juga sebagai mitra yang memberikan advisory. Idealnya, porsi advisory lebih besar dibandingkan fungsi assurance, yakni 60 persen banding 40 persen. Pendekatan ini semakin relevan bagi KAI Commuter yang beroperasi dalam ekosistem berisiko tinggi dan berada di bawah pengawasan banyak auditor eksternal seperti BPK, BPKP, dan Kementerian Keuangan.
“Ibaratnya, kalau lolos di BPKP belum tentu lolos di BPK, dan kalau lolos di BPK pun belum tentu lolos di Kementerian Keuangan. Fungsi Advisory ini membantu kita mempersiapkan segala hal agar lolos audit dari lembaga-lembaga tersebut.”
Di akhir pembicaraan, Fu Fau membagikan pandangan yang ia pegang sebagai prinsip dalam bekerja kepada Insan KAI Commuter. Ia merujuk pada tiga nilai dasar yang pernah disampaikan Warren Buffett tentang bagaimana memilih atau membangun sebuah tim: integritas, intelegensia, dan energi. Baginya, tiga nilai itu relevan dengan kebutuhan KAI Commuter.
“Energi Insan KAI Commuter sangat besar, tinggal diperkuat dengan integritas dan intelegensia. Dengan tiga hal tersebut, saya yakin KAI Commuter akan semakin maju.”
Pullquote:
“Energi Insan KAI Commuter sangat besar, tinggal diperkuat dengan integritas dan intelegensia. Dengan tiga hal tersebut, saya yakin KAI Commuter akan semakin maju.”
Fu Fau – Vice President Internal Audit KAI Commuter