Membangun Fondasi Pengelolaan Emisi

Share this article

KAI Commuter tengah mempersiapkan langkah awal pengelolaan emisi melalui skema carbon offset. Inisiatif memperkuat komitmen ESG dan keberlanjutan perusahaan.

KAI Commuter tengah menyusun Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) sebagai bagian dari penguatan tata kelola Environmental, Social, and Governance (ESG). Inisiatif ini merupakan tahap awal dalam membangun sistem pengelolaan emisi yang terukur, sebelum perusahaan melangkah lebih jauh ke tahap implementasi dan mekanisme perdagangan karbon.

Strategy Formulation Senior Specialist 2 KAI Commuter Ivan Haryo Prasojo menjelaskan, penyusunan DRAM berangkat dari komitmen PT KAI (Persero) dalam mengimplementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Komitmen tersebut tecermin dari langkah perusahaan yang telah mengintegrasikan ESG ke dalam roadmap serta Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).

Untuk memperkuat implementasi ESG, KAI juga membentuk unit khusus setingkat divisi yang fokus pada pengelolaan ESG serta merekrut tenaga ahli eksternal. “Roadmap ESG yang disusun oleh KAI kemudian diturunkan ke seluruh entitas anak perusahaan, termasuk KAI Commuter,” jelas Ivan.

Di KAI Commuter, komitmen tersebut diawali dengan penyusunan roadmap ESG. Setelah roadmap tersusun, tahap berikutnya adalah implementasi program prioritas, yang salah satunya diwujudkan melalui penyusunan DRAM. Dokumen ini menjadi prasyarat penting sebelum perusahaan dapat melangkah ke tahap verifikasi dan partisipasi dalam mekanisme perdagangan karbon.

 

Dari Perhitungan Emisi hingga Bursa Karbon

Ivan menegaskan bahwa carbon trading tidak dapat dilakukan secara langsung tanpa melalui tahapan yang terstruktur. Proses tersebut mencakup penyusunan DRAM, penghitungan emisi, hingga verifikasi oleh lembaga berwenang. Oleh karena itu, fokus utama saat ini masih berada pada penguatan metodologi serta kelengkapan data yang dibutuhkan.

Sebagai bagian dari proses awal, KAI Commuter melakukan kajian peralihan layanan kereta di wilayah Yogyakarta–Solo dari sarana berbahan bakar fosil menjadi Kereta Rel Listrik (KRL). Perubahan ini dinilai memiliki parameter before dan after yang jelas sehingga dapat menjadi dasar dalam memahami potensi reduksi emisi.

Selisih emisi dari penggunaan sarana berbahan bakar fosil dibandingkan dengan sarana berbasis listrik dihitung secara kumulatif dalam periode tertentu dan dinyatakan dalam satuan ton CO₂ ekuivalen. Hasil perhitungan ini nantinya berpotensi untuk diverifikasi oleh lembaga terkait sebelum dapat didaftarkan dalam mekanisme perdagangan karbon, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tantangan dan Harapan

Dalam pelaksanaannya, penyusunan DRAM menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan referensi hingga kompleksitas pengumpulan data historis operasional. Proses penghitungan melibatkan berbagai variabel, seperti konsumsi energi, frekuensi perjalanan, hingga kapasitas angkut penumpang dalam periode tertentu.

Meski masih dalam tahap penyusunan, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi KAI Commuter dalam mengembangkan pengelolaan emisi yang lebih sistematis. Ke depan, pendekatan ini berpotensi diperluas ke berbagai lini operasional serta mendukung kesiapan perusahaan dalam menghadapi perkembangan kebijakan dan ekosistem karbon.

“Kami berharap inisiatif ini nantinya dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam membangun sistem bisnis yang berkelanjutan.”