Merawat Budaya Keselamatan di Dunia Perkeretaapian

Share this article

Dari dunia kepolisian hingga perkeretaapian, Toto Fajar Prasetyo menegaskan satu prinsip: keselamatan harus dibangun melalui integritas, keteladanan, dan kepedulian bersama.

Sejak muda, Toto Fajar Prasetyo telah menambatkan mimpinya pada satu profesi, menjadi polisi. Maka, selepas menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Islam Jakarta, ia kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Perwira (SEPA) pada 1996. Beragam pendidikan kepolisian telah ia jalani, seperti Sekolah Lanjutan Perwira pada 2005, Sekolah Staf dan Pimpinan pada 2010, hingga Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I pada 2021.

“Saya memulai karier di Kepolisian bukan dari taruna, melainkan dari jenjang sarjana. Pengabdian saya di kepolisian lebih banyak dihabiskan di Sumatera,” terang Toto.

Di Pulau Sumatera, sejumlah penugasan pernah ia emban, di antaranya sebagai Kapolres Pesisir Selatan dan Kapolres Pasaman Barat. Di Pasaman Barat, wilayah dengan keberagaman etnis yang tinggi, ia belajar pentingnya adaptasi dan pendekatan sosial. Pengungkapan kasus pembunuhan berlatar konflik sosial serta kasus narkoba menjadi pengalaman yang membekas dalam perjalanan kariernya.

“Wilayah tersebut sangat rentan konflik SARA karena penduduknya berasal dari multi etnis. Tapi, kalau saya bekerja di suatu tempat, saya harus memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Integritas Tanpa Kompromi

Langkahnya di dunia perkeretaapian bermula ketika ia mendapat tawaran dari Direksi KAI untuk mengisi posisi Manajer Keamanan di DAOP V Purwokerto. Saat tawaran itu datang, ia tengah menjabat sebagai Kepala Bidang Keuangan Polda Bangka Belitung. Tiga bulan bertugas di Purwokerto, ia kemudian diamanahi tugas baru, Senior Manager Pengamanan DIVRE I Sumatera Utara.

“Baru tiba di Medan, saya mendapat laporan bahwa pagar di stasiun dicuri orang. Teman-teman kemudian mengatakan, selamat datang di Medan juang, Bung!”

Bersama timnya, dalam rentang waktu sembilan bulan, ia berhasil mengungkap 22 kasus. Capaian ini menjadi salah satu capaian tertinggi saat itu. Atas kinerja tersebut, ia pun menerima dua penghargaan.

Namun bagi Toto, pencapaian bukan semata soal angka. Ia menekankan pentingnya integritas dalam penegakan hukum. Karena itu, berbagai upaya negosiasi dari para pelaku kejahatan agar dibebaskan tidak pernah ia tanggapi.

“Tidak ada kata maaf dalam penegakan hukum. Kalau sekali kita beri celah, nantinya semua penjahat bisa melakukan hal yang sama. Saya tidak mau seperti itu.”

 

Membangun Budaya Keselamatan

Dari Medan, ia kemudian menjabat sebagai VP di KAI Services sebelum akhirnya berlabuh di KAI Commuter sebagai VP HSE dan Security pada April 2025. Di lingkungan kerja yang didominasi generasi milenial dan Gen Z, ia menyadari pendekatan komando tidak bisa diterapkan begitu saja. Oleh karena itu, ia mengedepankan pendekatan partisipatif.

Baginya, kepemimpinan adalah seni mengelola manusia. Ia memposisikan timnya sebagai keluarga. Ia rutin mengunjungi unit kerja, berdialog, serta memahami tantangan yang dihadapi personel di lapangan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkecil jarak struktural sekaligus menumbuhkan rasa memiliki.

“Saya menganggap mereka anak-anak saya. Sebagai orang tua, saya mencoba merangkul dan mengarahkan, sehingga mereka mau berproses menjadi lebih baik.”

Salah satu program yang diinisiasinya ialah Giat Sambang Pagi, kegiatan inspeksi langsung ke stasiun dan area operasional untuk melihat potensi bahaya secara nyata. Program ini tidak hanya bertujuan menemukan potensi bahaya, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan.

Melalui bebagai program keselamatan, ia menegaskan bahwa fungsi HSE dan Security bukan sekadar menjaga ketertiban, tetapi membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan. Ia percaya bahwa keamanan dan keselamatan bukan hanya tentang penindakan, melainkan juga pencegahan, keteladanan, dan integritas. Semua itu, menurutnya, harus tumbuh dari kesadaran seluruh Insan KAI Commuter.