Di balik ide yang berhasil diwujudkan, ada proses saling mendengar, menyatukan pandangan, hingga belajar memahami cara berpikir orang lain. Perbedaan latar belakang, kompetensi, bahkan ego dalam tim menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun, dari proses itulah berbagai inovasi di KAI Commuter lahir dan berkembang.
Menyatukan Ide, Melahirkan Solusi
Bagi Ahmad Nur Azis dan kedua rekannya, kolaborasi menjadi fondasi lahirnya PANTOM (Pantograf Overhaul Manggarai), alat tes untuk mendeteksi dini gangguan pantograf sebelum dipasang pada rangkaian KRL. Inovasi ini berangkat dari seringnya gangguan pantograf saat pengujian di lapangan.
Meski berada dalam satu unit kerja, Azis mengakui setiap anggota tim memiliki pandangan dan ide yang berbeda. Karena itu, komunikasi menjadi hal paling penting selama proses pengembangan inovasi.
“Setiap orang punya ide yang berbeda-beda. Semua ide kami tampung dulu, lalu kami simpulkan bersama melalui diskusi,” ujarnya.
Bagi Azis, menjaga komunikasi secara rutin menjadi kunci agar tim tetap solid hingga inovasi berhasil diselesaikan dan diimplementasikan. Bahkan, di luar jam kerja, ketiganya rela meluangkan waktu untuk lembur bersama demi menyempurnakan alat tersebut.
Kolaborasi itu akhirnya membuahkan hasil. PANTOM berhasil meraih Juara 1 CIC 2025 serta predikat Platinum pada ajang TKMPN di Batam.
Menjembatani Operasional dan Teknologi
Semangat kolaborasi juga dirasakan Baharudin saat mengembangkan SITOM (Commuter Train Operation Management). Inovasi digitalisasi dokumen dinas masinis ini lahir dari keresahan terhadap proses pelaporan yang mengharuskan masinis berjalan dan menyeberang rel setelah tiba di stasiun akhir.
Dikembangkan oleh Unit Manajemen Crew KA dan unit IT, tantangan pengembangan inovasi tak hanya dari sisi teknis semata, tetapi juga menyatukan cara pandang dua bidang yang berbeda.
Agar kolaborasi berjalan efektif, Unit Manajemen Crew KA terlebih dahulu menjelaskan alur kerja masinis secara detail kepada tim IT. Dari proses diskusi dan komunikasi yang terus dilakukan, kedua tim mulai memahami kebutuhan dan sudut pandang masing-masing.
“Banyak komunikasi dan tanya jawab yang akhirnya membuat kami saling memahami,” ujarnya.
Dari kolaborasi tersebut, Baharudin tak hanya berhasil menghadirkan inovasi, tetapi juga membangun hubungan kerja yang lebih erat dengan unit lain. SITOM kemudian meraih Juara 2 CIC 2025 dan penghargaan Gold pada ajang TKMPN.

Menurunkan Ego, Menguatkan Tim
Cerita serupa datang dari Roni Raisman. Bersama dua rekannya, ia mengembangkan C-NAR (Commuter Navigation and Reminder), aplikasi pengingat berbasis suara untuk membantu masinis menghadapi sinyal dan semboyan di perjalanan.
Menurut Roni, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, tetapi juga membangun kerja sama di dalam tim. Memahami karakter dan kompetensi masing-masing anggota menjadi kunci untuk menciptakan sinergi yang kuat. Tugas dibagi sesuai kemampuan, namun setiap anggota tetap diberi ruang untuk saling memberi masukan.
“Saya tidak pernah memosisikan diri sebagai ketua. Kami sama-sama belajar dan berjalan bersama,” ujarnya.
Perjalanan mengembangkan inovasi tersebut mengajarkan pentingnya tidak cepat puas, berani mencoba hal baru, serta menjaga kekompakan tim. Baginya, kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama, tetapi juga tentang menurunkan ego dan saling memahami.
Kolaborasi yang dibangun dengan saling memahami tersebut membuahkan hasil manis, C-NAR meraih juara Harapan 1 CIC 2025 dan predikat Platinum pada ajang TKMPN 2025.