Sosialisasi ini dirancang untuk membantu Insan KAI Commuter menyusun RKAP berbasis risiko. Diharapkan seluruh potensi risiko dapat terpetakan dalam RKAP 2026.
Sebagai bentuk komitmen dalam membangun sistem perencanaan yang lebih akurat, terintegrasi, dan berbasis risiko, KAI Commuter menggelar kegiatan Sosialisasi Risk Management – Risk Based Budgeting di Gedung Train Operation Depok pada Kamis, 26 Juni 2025.
Direktur Keuangan KAI Commuter Rahim Ramdhani dalam arahannya menyampaikan, pendekatan risk based budgeting atau anggaran berbasis risiko bukanlah hal baru di lingkungan KAI Commuter. Pendekatan ini telah diterapkan oleh perusahaan sejak 2020. Namun, di tahun ini, implementasi risk based budgeting akan lebih mendalam dan lebih menyeluruh di dalam perusahaan.
“Apalagi saat ini kita sudah menerima kereta baru. Target kita, semua rangkaian kereta baru ini bisa beroperasi penuh pada 2025. Untuk itu, kita harus mendukung baik dari operasional, perawatan, maupun dari sisi anggaran agar dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan,” jelas Rahim.
Rahim menambahkan, melalui kegiatan sosialisasi Risk Management – Risk Based Budgeting ini diharapkan seluruh potensi risiko baik risiko wilayah, ekonomi, operasional, maupun risiko keuangan dapat diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.
Rahim menilai, jika dibandingkan dengan tahun 2020, KAI Commuter telah menunjukkan progres yang lebih baik. Oleh karena itu, ia berharap penyusunan RKAP 2026 dapat dilakukan secara lebih utuh. Artinya, RKAP harus disusun dengan lebih tajam, adaptif, dan fleksibel sehingga semua potensi risiko dapat termuat dalam RKAP.
“Saya yakin, jika kita menerapkan pendekatan ini dengan benar, maka semua program akan lebih tepat sasaran. Saya berharap, seluruh risiko nantinya harus ter-capture dengan baik di dalam RKAP 2026.”

Memahami Risiko dan Peluang RKAP
Victor Riwu Kaho, Master Trainer CRMS yang menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut menjelaskan, Risk-Based RKAP merupakan pendekatan penyusunan rencana kerja dan anggaran tahunan Badan Usaha Milik Negara yang berbasis pada pengelolaan risiko secara terstruktur dan terukur. Pendekatan ini memastikan bahwa seluruh program dan anggaran yang dirancang selaras dengan profil risiko, kapasitas keuangan, dan strategi mitigasi risiko perusahaan.
“RKAP ini disusun berdasarkan RJPP dan peta jalan perusahaan, serta harus mencantumkan mitigasi risiko atas kegiatan utama. RKAP yang diajukan untuk disetujui di dalam RUPS dilengkapi dengan dokumen penilaian risiko,” jelas Victor.
Adapun dokumen penilaian risiko ialah dokumen seluruh kegiatan RKAP yang disertai dengan identifikasi dan evaluasi risiko. Untuk kegiatan yang memiliki risiko tinggi harus mendapatkan pengawalan lebih dan mitigasi khusus.
Lebih jauh Victor menjelaskan, dalam penilaian risiko strategis, perusahaan harus mengidentifikasi dua hal, yakni peluang yang mendukung pencapaian sasaran dan risiko yang menghambat tercapainya sasaran perusahaan. Menurutnya, tidak semua peluang bisa diesksplorasi dan tidak semua risiko bisa diambil oleh perusahaan.
“Kita perlu menganalisis, apakah peluang tersebut layak dieksekusi dan risiko tersebut masih dalam batas kemampuan kita untuk menanganinya. Kalau tidak, kita hanya akan mengambil risiko yang membahayakan perusahaan.”
Pullquote:
“Saya yakin, jika kita menerapkan pendekatan ini dengan benar, maka semua program akan lebih tepat sasaran. Saya berharap, seluruh risiko nantinya harus ter-capture dengan baik di dalam RKAP 2026.”
Direktur Keuangan KAI Commuter Rahim Ramdhani