Kiat Sehat di Bulan Ramadan

Share this article

Webinar ini diselenggarakan untuk meningkatkan wawasan Insan KAI Commuter dalam menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar selama menjalani puasa di bulan Ramadan. 

Perubahan pola makan dan waktu istirahat selama bulan Ramadan kerap mempengaruhi kondisi tubuh kita. Agar Insan KAI Commuter senantiasa sehat dan bugar selama menjalani puasa di bulan Ramadan, KAI Commuter menggelar Healty Talk pada Kamis, 13 Maret 2025. Dilaksanakan secara daring, acara ini menghadirkan dr. Dewi Mira Ratih Sp.PD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Metro Cikupa.

Dalam webinar tersebut, Dewi menjelaskan bahwa puasa secara bahasa artinya membatasi dan tidak mengkonsumsi kalori dalam jangka waktu tertentu. Adapun tujuan puasa pada tiap-tiap orang berbeda-beda. Ada yang melaksanakan puasa dengan tujuan ibadah. Ada pula yang melakukan puasa  untuk melatih disiplin dan menjaga kesehatan diri.

“Dari segi waktu, puasa dibagi menjadi dua, yaitu puasa terus-menerus yang berkepanjangan dan intermitten. Kalau intermitten, ada waktu di mana ia berpuasa dan tidak berpuasa. Bagi yang melakukan intermitten, ada istilah jendela makan, seperti 18-6,” jelas Dewi.

Dewi menambahkan, pada saat berpuasa tubuh akan mengalami perubahan. Pada saat tidak berpuasa, makanan yang dikonsumsi akan menghasilkan glukosa yang kemudian dikonversi oleh tubuh menjadi energi. Sementara saat berpuasa, tubuh akan mengeluarkan cadangan glukosa untuk membantu metabolisme tubuh. Ketika cadangan glukosa tersebut menipis, maka akan terjadi pembakaran lemak. Maka tidak mengherankan jika banyak orang berusaha menurunkan berat badan dengan cara berpuasa.

Puasa juga memiliki manfaat dalam hal meningkatkan ketahanan diri terhadap stres dan pembersihan sel atau autofagi. Saat berpuasa, tubuh memiliki waktu cukup untuk membersihkan atau membuang sel-sel yang rusak dan tidak berfungsi dengan baik dan menggantinya dengan sel-sel baru. Manfaat lain dari berpuasa ialah meningkatkan kesehatan pencernaan. Hal ini berdampak pada menurunnya penyakit yang berkaitan dengan asam lambung.

 

Meningkatkan Derajat Kesehatan

Menurut Dewi, pada dasarnya puasa bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi cara bagi setiap orang untuk mencapai derajat kesehatan yang diinginkan. Untuk mencapai derajat kesehatan tersebut, penting bagi setiap orang untuk memahami posisinya, apakah ia termasuk individu berisiko rendah, sedang, atau tinggi untuk menjalankan puasa.

“Kita harus tahu stratifikasi risiko puasa. Ini bisa dibantu oleh dokter. Record atau catatan saat menjalani puasa pada tahun-tahun sebelumnya bisa menjadi catatan penting untuk pengambilan keputusan, apakah kita termasuk individu berisiko rendah, sedang, atau tinggi,” jelas Dewi.

Orang berisiko tinggi, lanjut Dewi, dilarang untuk berpuasa. Seseorang dapat dikatakan berisiko tinggi jika tiga bulan sebelum Ramadan mengalami hipoglekimia. Bagi individu yang mengalami hipoglekimia berulang, kontrol gula darah buruk, ketoasidosis diabetik (KAD), dan Diabetus Melitus tipe 1 memang tidak dianjurkan untuk berpuasa.

Lebih jauh Dewi menjelaskan, setiap orang juga perlu mengetahui kapan harus membatalkan puasa. Batalkan puasa ketika mengalami hipoglikimia atau hiperglikimia. Ciri-ciri dari hipoglikimia antara lain, tangan bergemetar, berkeringat dingin, dada berdebar, perubahan kesadaran, kebingungan, dan nyeri kepala. Adapun ciri dari hiperglikimia antara lain rasa haus yang hebat, lemah, sering BAK, kebingungan, mual atau muntah, dan nyeri perut.

Agar dapat menjalani puasa dengan sehat dan berstamina, Dewi menyarankan agar senantiasa makan sahur. Namun batasi diri agar tidak terlalu kenyang saat makan sahur. Kemudian perbanyak konsumsi serat, cukupi kebutuhan cairan, dan segerakan berbuka ketika waktu berbuka tiba.

“Sepertihalnya sahur, hindari makan berlebihan saat berbuka. Pastikan konsumsi makanan yang sehat saat sahur dan berbuka. Jangan lupa untuk tetap berolahraga.”

 

Pullquote:

“Puasa secara bahasa artinya membatasi dan tidak mengkonsumsi kalori dalam jangka waktu tertentu. Tujuan puasa pada tiap-tiap orang berbeda-beda, baik untuk ibadah, disiplin diri, menjaga kesehatan, maupun gabungan dari ketiganya.”

  1. Dewi Mira Ratih Sp.PD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Metro Cikupa.