Kemampuan mengajarnya diasah sejak duduk di bangku pondok pesantren. Kini, tak hanya aktif mengajar membaca Alquran di TPQ miliknya, tetapi juga di Kantor KAI Commuter.
Tumbuh dalam lingkungan yang religius, tak hanya menjadikan Iqbal sebagai sosok yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik, tetapi juga mampu mengajarkan ilmu tersebut kepada masyarakat. Pendidikan agama Islam diperolehnya sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Sementara pendidkan SMP dan SMA ia jalani di Mumtaz Ibadurrahman, pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Ahmad Ihsan, yang akrab disapa Kiai Cepot.
Setelah enam tahun mengenyam pendidikan di pondok pesantren, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Agama Islam, Jurusan Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Menyandang gelar sarjana pada 2014, ada banyak pilihan karier yang bisa dipilihnya saat itu, tetapi Iqbal memilih menjadi guru agama di sekolah dasar negeri yang berlokasi di Batu Ceper.
“Pengalaman mengajar saya peroleh saat di pesantren. Sebagai syarat kelulusan, setiap santri diwajibkan mengajar menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris. Saya memilih mengajar menggunakan bahasa Arab,” ujar Iqbal.
Selain mengajar di sekolah, dengan niat mengamalkan ilmu yang diperolehnya dari pesantren, Iqbal juga mengajar membaca Alquran di Taman Pendidikan Alquran di perumahan yang lokasinya tepat di depan Stasiun Batu Ceper. Sepanjang sore hingga malam, ia mengajar di dua tempat serta mengajar murid yang mengambil kelas private.
Bersama istrinya yang juga alumni pondok pesantren, Iqbal kemudian mendirikan TPQ di rumahnya. Berawal dari mengajar saudara dan tetangga dekat rumah yang jumlahnya sekitar 10 orang, muridnya kini berjumlah puluhan orang. Yang menarik, TPQ miliknya tak hanya mengajari anak-anak sekolah dasar, tetapi juga remaja, dewasa, bahkan lansia.

Tadarus dan Belajar Alquran Insan KAI Comuter
Mengamalkan ilmu yang dimiliki di mana pun berada menjadi nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Iqbal. Maka, sejak bergabung di PT KAI (Persero) pada 2017, ia yang kerap diminta melantunkan ayat-ayat Alquran, maupun memimpin doa dalam berbagai kegiatan keagamaan di perusahaan melakukannya dengan senang hati. Mengumandangkan azan, melantunkan ayat Alquran, hingga memimpin doa, terus ia lakukan di KAI Commuter.
“Begitu terbentuknya DKM Assyifa di KAI Commuter, pengurus yang berharap ada regenerasi imam menggagas ide untuk membuat program belajar mengaji. Pengurus DKM kemudian meminta saya untuk mengisi program tersebut,” tutur Iqbal.
Dalam kegiatan Tabel Qommuter (Tadarus dan Belajar Alquran bersama Insan KAI Commuter) yang dilaksanakan setiap Kamis, Iqbal mengedepankan metode tahsin. Menurutnya, metode ini dipilih lantaran Insan KAI Commuter sebetulnya telah memiliki dasar atau kemampuan membaca Alquran sehingga yang diperlukan ialah penyegaran dan memperbaiki bacaan saja.
Berbeda dengan metode pengajaran Alquran konvensional yang umumnya hanya mengoreksi, dalam mengajar, Iqbal menjelaskan secara logis mengapa ayat tersebut harus dibaca demikian. “Ada alasannya kenapa harus panjang, kenapa harus pendek, kenapa harus ditekan, kenapa harus ditahan, dan kenapa harus dilepas,” terang Iqbal.

Hidup Imbang antara Dunia dan Akhirat
Bagi Iqbal, mengajar Alquran, baik di TPQ maupun di lingkungan perusahaan merupakan salah satu cara meneladani ajaran Rasulullah SAW, yakni sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Selain itu, ia juga memiliki falsafah hidup, bahwa hidup yang baik adalah hidup yang dijalani dengan seimbang antara dunia dengan akhirat.
Memang banyak pandangan yang menyatakan mengejar akhirat lebih penting daripada mengejar dunia. Ketika mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti. Namun, ia ingin berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW. Sesuai Hadis Rasulullah SAW, bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok.
“Jadi, saat bekerja, kita bekerja dengan sungguh-sunguh. Begitupun saat beribadah, kita beribadah dengan sungguh-sungguh. Salah satu kesungguhan dari ibadah ialah mengamalkan dan membagikan ilmu yang dimiliki,” ucap Iqbal.
Pullquote:
“Pengalaman mengajar saya peroleh saat di pesantren. Sebagai syarat kelulusan, setiap santri diwajibkan mengajar menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris. Saya memilih mengajar menggunakan bahasa Arab,” ujar Iqbal.
Iqbal Maulana – Pengajar Tabel Qommuter