Ketiga Trail Runner KAI Commuter membagikan awal mula ketertarikannya terhadap trail run. Langkah awal yang membawa mereka pada berbagai event lintas alam di Indonesia.
Bagi sebagian orang, trail run bukan sekadar aktivitas lari, melainkan panggilan jiwa yang membawa mereka menjelajah alam, bersentuhan dengan diri, dan menantang batas kemampuan diri. Olahraga yang dilakukan di hutan, padang sabana, gunung, atau bukit ini juga mengajak penggemarnya untuk belajar memahami tubuh dan pikirannya di tengah lintasan yang tak kenal kompromi.
Melampaui Batas di Jalur Trail
Ketertarikan Bellando pada trail run didasari dua hal sederhana, gemar naik gunung dan berlari. Baginya, trail run menjadi wadah untuk menyalurkan kedua hobinya tersebut. UI Trail Race menjadi event trail run yang pertama diikutinya. Berlokasi di Sentul, Jawa Barat, ia mengambil kategori 21K.
Berhasil menyelesaikan kategori 21K, Bellando tertantang untuk untuk mencoba jarak yang lebih panjang, yakni 40K di Jakarta Open Trail Run di kawasan Gunung Gede. Kendati telah hafal medan karena terbiasa mendaki Gunung Gede, persiapan melompat dari kategori 21K ke 40K dilakukannya dengan penuh persiapan matang.
“Saya melakukan simulasi rute dan tahu medan apa yang akan dilalui. Dengan begitu, tidak lagi menebak-nebak di hari lomba,”ujarnya.
Pria yang akan mengikuti ajang Bromo Tengger Trail Run kategori 70K ini menancapkan target besar pada tahun ini, yakni berhasil menembus kategori di atas 100K dan tercatat sebagai potential winner.
Berawal dari Road Run, Berlanjut Ke Petualangan Alam
Danang Aji Prawira boleh dikatakan sebagai pelari pemula. Ketertarikannya pada dunia lari berawal dari ajang CommmuterRun 2024 yang diselenggarakan oleh KAI Commuter. Terbiasa berlari di treadmill dan berolahraga di pusat kebugaran membuatnya merasa bisa mencapai 5K dengan mudah. Namun, kenyataannya tak demikian.
“Awalnya saya kira pasti mudah karena sudah biasa latihan fisik. Ternyata, berlari 5K sangat melelahkan, tetapi bikin ketagihan. Dari sini, saya mulai serius lari hingga diperkenalkan teman tentang trail run,” kenang Danang.
Event trail run pertamanya ialah Semarang Trail Race kategori 7K, kemudian dilanjutkan dengan UI Trail Race pada kategori yang sama. Merasa sudah lebih matang, ia pun memberanikan diri mengikuti ajang Siksorogo Lawu Ultra kategori 16K. Terakhir, ia mengikuti Coast to Coast yang diselengarakan di Yogyakarta pada kategori 15K.

Perjalanan Mengenal Diri
Nama Deni Novi Pratama tak hanya dikenal sebagai trail runner di kalangan pencinta lari di KAI Commuter saja, tetapi juga di KAI Group. Mengawali hobi lari karena sakit punggung yang dideritanya sehingga tidak memungkinkannya lagi membawa ransel untuk mendaki gunung, anggota pencinta alam semasa kuliah ini pun mulai menekuni hobi lari.
Event trail run pertamanya di mulai pada 2016 pada kategori 5K. Sejak itu, ia tak pernah absen mengikuti berbagai ajang trail run di Indonesia, seperti UI Trail Race, Bromo Tengger Trail Run, Ciremai Ultra Jabar, Ultra Bali Trail, dan Coast to Coast Yogyakarta ketegori 80K. Trail Run di Pulau Dewata menjadi salah satu pengalaman paling berkesan baginya.
“Saya sempat hilang di Gunung Abang. Saat itu, kondisinya berkabut dan jarak pandang hanya 4-5 meter. Sementara, baterai smart watch juga habis. Saya tersasar di tengah malam.”
Bagi Deni, trail run sejatinya ialah menemukan ketenangan dan mengenal diri lebih dalam. Ia mencontohkan, pada kategori di atas 50K, peserta berlari selama belasan jam. Di tengah kesunyian hutan atau gunung, tak hanya fisik yang diuji, tetapi juga kekuatan mental. Di tengah keheningan itu, ia merasa mengenal dirinya lebih dalam.
Ke depan, ia berencana memadukan hobi larinya dengan pelestarian lingkungan. Dalam waktu dekat, ia bersama trail runner KAI Commuter akan membuat kegiatan trail run yang dipadukan dengan penanaman pohon.