Meniti Perubahan dari Ruang Teknologi Informasi

Share this article

Baginya, teknologi bukan sekadar perangkat atau aplikasi, tetapi fondasi penting untuk membangun operasional yang lebih tertata, aman, dan terintegrasi.

Agung Susilo Putro telah menjadi bagian dari perjalanan transformasi digital perkeretaapian Indonesia sejak awal 1990-an. Ia bergabung dengan PT KAI pada 1993, di masa ketika sebagian besar proses operasional masih dilakukan secara manual dan pemanfaatan teknologi belum berkembang seperti sekarang.

Mengawali karier di KAI sebagai pelaksana, Agung kemudian dipercaya menjadi programmer ticketing untuk pengembangan sistem penjualan tiket kereta api. Saat itu, sistem masih berbasis text mode dan baru diterapkan untuk lintas Jakarta–Bandung sebelum kemudian berkembang ke berbagai wilayah lain.

“Saat itu, karena orangnya belum banyak, saya menangani pengembangan, troubleshooting, sampai melatih petugas loket,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi awal keterlibatannya dalam berbagai pengembangan sistem IT di KAI, mulai dari ticketing, angkutan barang, hingga transformasi layanan digital yang terus berkembang mengikuti kebutuhan operasional perusahaan.

 

Terlibat Pengembangan Ticketing KAI Commuter

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat terlibat dalam transformasi ticketing KAI Commuter pada 2012–2013. Pada masa itu, KAI Commuter mulai menerapkan sistem gate elektronik dan sterilisasi stasiun untuk mendukung perubahan pola layanan penumpang.

Dalam proyek tersebut, Agung bertugas sebagai project manager yang mengawal implementasi di lapangan. Hampir setiap hari ia berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain untuk memastikan pemasangan gate dan sistem ticketing berjalan sesuai rencana.

“Kadang jam lima pagi saya sudah berangkat dari Jakarta Kota, lalu sore hari baru sampai Stasiun Bogor. Saya harus mengecek satu per satu gate di setiap stasiun, melihat progresnya, mendokumentasikan, dan memastikan apa saja yang masih kurang.”

Menurutnya, tantangan terbesar saat itu bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga bagaimana menyelaraskan kebutuhan berbagai pihak dalam waktu yang relatif singkat. Evaluasi dilakukan hampir setiap pekan dan berbagai keputusan di lapangan kerap berubah mengikuti kebutuhan operasional.

 

Mendorong Standarisasi dan Integrasi Sistem

Perjalanan Agung di bidang IT tidak berhenti pada pengembangan ticketing. Ia juga beberapa kali dipercaya membantu transformasi sistem di berbagai unit dan instansi, mulai dari Kementerian Perhubungan, KCIC, hingga kembali memperkuat sistem di KAI Commuter sebagai VP IT.

Saat ini, salah satu fokus yang ia dorong adalah penguatan tata kelola dan standarisasi sistem IT di KAI Commuter. Menurutnya, sistem yang baik bukan hanya mampu berjalan, tetapi juga harus memiliki standar keamanan dan tata kelola yang jelas.

Ia menilai, seiring berkembangnya layanan dan integrasi antarmoda, kebutuhan terhadap sistem yang aman dan terhubung akan semakin besar. Karena itu, KAI Commuter juga terus mempersiapkan integrasi dengan berbagai moda transportasi lain, termasuk LRT dan layanan kereta bandara.

 

Belajar Mengikuti Perubahan

Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, Agung mengaku tetap menjaga kebiasaan belajar yang sudah ia lakukan sejak muda. Sebelum internet mudah diakses, ia mempelajari teknologi melalui majalah IT, buku teknis, hingga mencari referensi di toko foto kopi di Bandung.

Kebiasaan itu masih terus ia pertahankan hingga sekarang. Di waktu luang, ia senang mempelajari microcontroller dan Internet of Things (IoT) untuk memahami perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Agung, perkembangan teknologi akan terus berubah. Karena itu, kemampuan yang paling penting adalah menjaga kemauan untuk terus belajar dan mencoba hal baru. “Jangan takut salah, jangan takut kesasar. Dari situ kita belajar,” pesannya.