Dalam situasi darurat, tidak ada ruang untuk bekerja sendiri. Proses evakuasi KKA Bekasi Timur menjadi cerita tentang koordinasi dan banyak tangan yang bergerak bersama di balik layar.
Malam itu, kabar mengenai kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur menyebar cepat. Berbagai unit di KAI Commuter langsung bergerak ke lokasi, mulai dari mengamankan area, mengevakuasi korban, membuka posko informasi, hingga memastikan layanan kesehatan berjalan cepat.
Bagi Achmad Zhulfiqar, Pengawas Ruas Perawatan Bulanan UPT Dipo KRL Manggarai, malam itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Setelah menyelesaikan perbaikan di Dipo sekitar pukul sembilan malam, ia langsung diminta mendampingi tim Basarnas di lokasi kecelakaan.
Menurut Zhulfiqar, Kondisi di lapangan sangat sulit. Sambungan kereta terputus, rangka bawah kereta melipat, sementara korban masih terjepit di antara badan kereta yang ringsek. Dengan peralatan seadanya, tim harus bekerja hati-hati agar proses evakuasi tidak membahayakan korban yang masih hidup.
“Yang paling berat itu ketika alat bergerak, korban yang terjepit ikut merasakan sakit. Tapi kami harus tetap bekerja agar yang masih bernyawa bisa diselamatkan,” ujarnya.
Selama dua hari, Zhulfiqar dan tim bertahan di lokasi dengan beristirahat seadanya di stasiun. Lelah, sudah pasti. Namun baginya, apa yang dilakukannya itu bukan sekadar tugas, melainkan panggilan kemanusiaan.
Menjaga Lokasi Tetap Kondusif
Budi Hermanto, Safety Inspector Assistant Manager KAI Commuter, mengingat bagaimana petugas harus membagi fokus antara membantu evakuasi dan mensterilkan area agar tim Basarnas dan Damkar dapat bekerja aman. Bersama Polsus, Marinir, Koramil, hingga kepolisian, tim pengamanan berjaga di sekitar lokasi sambil mengatur kerumunan yang terus berdatangan.
Di saat bersamaan, tim rescue membantu menyiapkan perlengkapan evakuasi, mulai dari lampu penerangan, alat rescue, hingga mencari terpal untuk menutupi area evakuasi korban.
“Yang paling berat justru menahan warga dan wartawan agar tidak mendekat. Teman-teman sedang berjibaku menolong korban, tapi lokasi terus dipadati orang,” ujar Hermanto.
Mona Insaniati, Environment, Health, and Safety Manager KAI Commuter menambahkan, tim HSE juga membantu mengumpulkan data awal untuk mendukung proses investigasi bersama KAI dan KNKT setelah situasi dinyatakan aman.
“Data itu sendiri terdiri dari data primer dan sekunder. Untuk data primer, sedapat mungkin kami tidak mengganggu proses evakuasi yang dilakukan oleh Basarnas,” terang Mona.
Mendata dan Melayani Korban
Teguh Trilaksono, Passengers and Occupational Health Service Junior Specialist 3 KAI Commuter, punya kisah berbeda. Setibanya di lokasi, proses triase sudah berjalan di peron, sementara korban lain masih dievakuasi dari gerbong yang ringsek.
Bersama tim medis, PMI, dan Basarnas, Teguh membantu memenuhi kebutuhan darurat di lokasi, mulai dari mencari tambahan oksigen hingga membantu penanganan korban terjepit. Dalam keterbatasan alat, tim bahkan merobek kursi KRL untuk dijadikan penyangga tulang darurat bagi korban luka.
“Saya paling ingat, pukul 2 pagi, ada korban yang minta roti rasa cokelat karena lapar akibat terjepit sejak pukul 9 malam.”
Selain mendampingi korban, tim kesehatan juga berkoordinasi dengan keluarga dan rumah sakit hingga proses pemulangan jenazah dan trauma healing.

Menguatkan Keluarga yang Menunggu Kabar
Rezki Kharis Munandar, Service Support Administration Junior Specialist 3 KAI Commuter, mengingat malam itu banyak keluarga datang mencari kabar, sementara penumpang lain masih shock dan membutuhkan bantuan.
Salah satu momen yang paling diingat Rezki adalah ketika seorang bapak datang sejak pukul 11 malam untuk mencari istrinya. Setelah menunggu berjam-jam di posko, pria itu akhirnya mendapat kabar pada pukul 4 pagi bahwa istrinya telah meninggal dunia.
“Sejak kejadian itu saya jadi sadar, setiap penumpang yang berangkat selalu ada keluarga yang menunggu mereka pulang,” ujarnya.
Selain mendampingi keluarga korban, tim pelayanan juga merapikan barang-barang pribadi korban agar dapat diserahkan dengan layak kepada keluarga.