Ia menyeimbangkan dedikasi membangun SDM di perusahaan dengan perhatian pada keluarga. Meyakini kesuksesan lahir dari kerja keras dan dukungan dari orang terdekat.
Tiga puluh tiga tahun silam, tepatnya pada 1992, Indriyani memulai langkah pertamanya di dunia perkeretaapian Indonesia. Saat itu, ia terpilih sebagai satu peserta program kerja sama antara Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menempuh pendidikan Diploma III. Program beasiswa dengan ikatan dinas ini menjadi pintu awal yang mengantarkannya pada perjalanan panjang bersama KAI.
“Setelah lulus pada 1995, saya ditempatkan di DAOP VI Yogyakarta, di bagian operasi dan pemasaran sebagai calon PPKA. Sambil menunggu penempatan, saya bersama sembilan rekan lainnya melanjutkan pendidikan S1 Manajemen di UGM,” kenang Indriyani.
Sebagai calon PPKA yang kelak diproyeksikan mengisi posisi sebagai kepala stasiun, takdir justru menuntunnya ke ranah sumber daya manusia. Selepas menamatkan pendidikan S1, ia belum sempat mengambil brevet PPKA karena langsung ditugaskan di bagian SDM. Dari sinilah perjalanannya di dunia manajemen SDM dimulai.
Sempat bekerja di kantor pusat selama tiga tahun, ia kemudian kembali ke Yogyakarta. Di DAOP VI, kariernya terus berlanjut, dari pelaksana hingga menempati posisi Manajer SDM. Pada 2012, ia kembali ditugaskan ke kantor pusat, lalu ke DAOP V Purwokerto, sebelum kembali lagi ke kantor pusat KAI. Pada 2021, ia dipercaya memperkuat tim di KAI Property, hingga akhirnya berlabuh di KAI Commuter sebagai VP Human Capital pada 2024.
Menguatkan Fondasi Human Capital KAI Commuter
Bagi Indriyani, berpindah penugasan berarti juga beradaptasi dengan budaya kerja yang berbeda. Sebagai seseorang yang lahir dan besar dengan kultur Jawa, penugasan di Jakarta sempat membuatnya mengalami culture shock. Saat pertama kali bergabung dengan KAI Commuter, ia merasakan atmosfer yang dinamis, khas lingkungan urban dan generasi muda.
“Awalnya agak kaget juga, karena anak-anak sekarang lebih ekspresif dan berani berpendapat. Tapi saya justru senang, karena itu membantu kami mengetahui apa yang mereka pikirkan,” ujar Indriyani.
Menurutnya, pengelolaan SDM di KAI Commuter sudah sangat terstruktur dan profesional. Tantangan yang kini dihadapi justru terletak pada proses rekrutmen, yakni menemukan kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sebagai entitas yang terus bertumbuh pesat, KAI Commuter membutuhkan talenta dengan kualifikasi yang semakin kompleks serta kemampuan adaptasi tinggi terhadap perubahan.
Di tugas barunya ini, ia tengah memperkuat sistem pengelolaan SDM yang terintegrasi di lingkungan KAI Group. Salah satu fokus utamanya adalah penyusunan kamus kompetensi dan profil kompetensi untuk setiap jabatan, yang memuat standar kemampuan, level, serta indikator kinerja yang harus dimiliki karyawan. Upaya ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan mobilitas talenta yang lebih fleksibel, di mana pegawai berprestasi dari anak perusahaan dapat berpindah ke induk perusahaan maupun sebaliknya.
Langkah berikutnya adalah pengembangan talent pool berbasis data yang lebih komprehensif. Selain menyusun kamus dan profil kompetensi, timnya juga mengembangkan sistem penilaian 365 derajat guna menilai potensi dan kinerja karyawan secara menyeluruh. Seluruh data tersebut akan diintegrasikan ke dalam sistem milik KAI, sehingga proses pengelolaan dan pemetaan talenta dapat dilakukan secara digital, objektif, dan berkelanjutan di seluruh entitas KAI Group.
Di Balik Setiap Langkah, Ada Keluarga yang Menguatkan
Di balik kesibukan dan tanggung jawab besar, Indriyani tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan sepenuh hati. Meski harus berjauhan dari keluarga karena tuntutan pekerjaan, ia selalu berupaya untuk tetap hadir di tengah mereka, baik melalui panggilan telepon, video call, atau dengan pulang setiap akhir pekan demi bertemu orang-orang tersayang.
Bagi Indriyani, keberhasilannya mencapai posisi saat ini tak bisa diraih seorang diri. Baginya, posisi strategis yang diembannya hari ini bukan semata-mata buah dari kompetensi yang dimilikinya dan dedikasinya terhadap pekerjaan, tetapi juga berkat dukungan penuh dari keluarga.
“Suami dan anak-anak sangat mendukung. Mertua saya, yang rumahnya berdekatan, sangat support sekali. Kalau tidak ada dukungan dari mereka, saya tidak akan bertahan sejauh ini di PT KAI,” terang Indriyani.