Musala sebagai Tempat Menyembuhkan Hati dan Jiwa

Share this article

Memakmurkan musala menjadi spirit lahirnya kepengurusan DKM Assyifa. Harapannya, musala menjadi tempat ibadah sekaligus memperdalam Agama Islam. 

Di tengah sibuknya pekerjaan dan tenggat waktu yang seolah terus mengejar, sejumlah Insan KAI Commuter segera menghentikan aktivitasnya kala suara azan berkumandang. Mereka memilih menepi sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan. Melangkah perlahan menuju salah satu tempat di ruang kantor KAI Commuter, yakni Musala Assyifa

“Assyifa berasal dari Bahasa Arab yang artinya obat atau penyembuh. Nama ini kami pilih dengan harapan agar Musala Assyifa bisa menjadi obat atau menyembuhkan hati dan jiwa para jamaah yang salat dan mengikuti kajian di dalamnya,” jelas Ahmad Saefullah, Ketua Dewan Kemakmuran Musala (DKM) Assyifa.

Menurut pria yang akrab disapa Ipul ini, baik penyematan nama Assyifa maupun kepengurusan DKM dibentuk sesaat setelah renovasi musala dirampungkan, tepatnya menjelang Ramadan 1446 H.  Bersama Husni, imam tetap musala KAI Commuter, gagasan membentuk kepengurusan DKM Assyifa bertujuan agar musala yang kini telah dipisah untuk laki-laki dan perempuan tidak sekadar menjadi tempat untuk salat saja, tetapi juga ruang untuk memperdalam agama Islam.

Program pertama yang digelar oleh DKM Assyifa ialah Cahaya Ilmu di Setiap Perjalanan. Program ini merupakan kajian rutin yang dilaksanakan setiap Kamis di bulan Ramadan, baik di musala pria maupun musala wanita. Dilaksanakan pukul 12.30-13.00 WIB, kajian selama 30 menit ini mengangkat topik yang beragam seperti Empat Pertama Titipan Allah SWT, Hijrah Spiritual di Bulan Ramadan, Menggapai Kemuliaan Ramadan, dan Muhasabah Akhir Ramadan.

Adapun ustaz atau penceramah yang mengisi kajian tersebut antara lain, Ustaz Nur Ghufron Kholik, M.A, Ustaz Acep M. Sirozuddin M.Ag, Ustaz Saeful Mujmal, Lc, dan Ustaz Muhammad Dhomiruddin, S.ag. Kendati baru dilaksanakan kali pertama, program Cahaya Ilmu di Setiap Perjalanan mendapat respons positif dari Insan KAI Commuter.

“Alhamdullillah antusiasnya positif dan mendapat respons positif dari Insan KAI Commuter. Di musala wanita, kami mengadakan program pengajian atau membaca Alquran bersama setiap Rabu. Kegiatan ini dilaksanakan bersama PIKKA unit KAI Commuter,” terang Ipul.

 

Diberkahi dan Diridai Allah SWT

Ipul menambahkan, sejalan dengan upaya melengkapi struktur kepengurusan, DKM Assyifa juga merancang sejumlah program kerohanian, salah satunya pengajian rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan. Berbeda dengan pengajian bulanan yang dilaksanakan oleh KAI Commuter secara “grande” dan sifatnya satu arah, pengajian di musala ini memungkinkan jamaah untuk berdiskusi dan tanya jawab terkait keagamaan secara langsung kepada penceramah.

Guna lebih memakmurkan musala, pengurus DKM Assyifa juga berencana menambah sejumlah fasilitas. Kolaborasi juga tak luput dilakukan oleh pengurus DKM Assyifa. Berkolaborasi dengan C-Peduli, DKM Assyifa membuka kesempatan kepada seluruh Insan KAI Commuter untuk meraih pahala melalui infak dan sedekah.

“Harapannya, semoga dengan adanya kepengurusan ini musala semakin makmur dan jamaah semakin rajin lagi untuk menunut ilmu Agama Islam. Semoga kita semua diberkahi dan diridai oleh Allah SWT.”

 

Pullquote:

“Assyifa artinya obat atau penyembuh. Harapannya Musala Assyifa bisa menyembuhkan hati dan jiwa para jamaah yang salat dan mengikuti kajian di dalamnya.”

Ahmad Saefullah – Ketua Dewan Kemakmuran Musala (DKM) Assyifa