Ngobrol Culture Bareng Commuter Influencer

Share this article

Lewat kegiatan Ngebooster Culture, KAI Commuter mengajak para influencer internal membangun media sosial yang informatif, positif, dan bertanggung jawab.

Bagi KAI Commuter, ruang digital bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kedekatan dan kepercayaan masyarakat. Menyadari pentingnya peran media sosial dalam membangun citra perusahaan, KAI Commuter menggelar kegiatan Ngebooster Culture (Ngobrol Seru Commuter Culture) bersama Commuter Influencer di Resto Abeto Menteng pada 15 April 2026.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan, influencer memiliki kekuatan yang tidak dimiliki akun resmi perusahaan. Melalui gaya komunikasi yang lebih personal dan dekat dengan keseharian pengguna Commuter Line, informasi dari perusahaan dapat diterima masyarakat dengan lebih mudah.

“Teman-teman adalah bagian dari KAI Commuter. Konten yang dibuat memiliki korelasi dengan perusahaan dan bisa membantu penyampaian informasi kepada masyarakat,” ujar Karina.

Menurut Karina, peran influencer internal lebih dari sekadar membuat konten yang menarik, tetapi juga berperan membangun perspektif publik terhadap perusahaan. Karena itu, ia berharap influencer internal dapat menjadi perpanjangan tangan perusahaan dalam menyampaikan berbagai informasi dan transformasi layanan yang sedang dilakukan KAI Commuter.

Salah satu contoh yang ia soroti ialah revitalisasi Stasiun Bogor. Menurutnya, informasi mengenai perubahan layanan sering kali lebih mudah diterima masyarakat ketika disampaikan oleh sesama pengguna atau influencer dibandingkan langsung oleh perusahaan.

“Ketika yang menyampaikan adalah sesama pengguna atau influencer, respons masyarakat biasanya lebih positif,” ungkap Karina.

Menjaga Etika, Empati, dan Profesionalisme

Di balik konten-konten yang terlihat ringan di media sosial, Karina mengingatkan ada tanggung jawab besar yang turut melekat. Terlebih, sebagian besar influencer KAI Commuter menggunakan atribut perusahaan dalam kontennya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga etika, empati, dan profesionalisme dalam membuat konten. Menurutnya, tidak semua tren media sosial harus diikuti, terutama jika berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap perusahaan.

Selain itu, ia mengingatkan agar aktivitas media sosial tidak mengganggu tugas utama para pegawai sebagai pelayan masyarakat. Konten boleh terus berkembang, tetapi pelayanan kepada pengguna Commuter Line tetap menjadi prioritas utama.

 

Menjaga Batas antara Personal dan Profesional

Karina memahami influencer internal juga memiliki ruang untuk membangun personal branding dan menjalin kerja sama endorsement. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan atribut maupun lingkungan KAI Commuter dalam konten membuat batas antara identitas pribadi dan perusahaan menjadi sangat tipis.

Ia berharap, influencer lebih berhati-hati dalam menentukan konten maupun produk yang dipromosikan. Terdapat sejumlah hal yang tidak boleh dimuat dalam konten, seperti unsur pornografi, perjudian, narkotika, hingga muatan yang berpotensi mencemarkan nama baik perusahaan maupun menyerang pihak tertentu.

Selain itu, para influencer tidak membawa opini politik pribadi menggunakan atribut perusahaan.“Ketika menggunakan atribut KAI Commuter, masyarakat tidak lagi melihat itu sebagai opini pribadi, tetapi bagian dari perusahaan.”

 

Pullquote:

“Ketika menggunakan atribut KAI Commuter, masyarakat tidak lagi melihat itu sebagai opini pribadi, tetapi bagian dari perusahaan.”

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda