Hadir melalui skema pembiayaan kreatif dan pendekatan TOD, Stasiun Jatake memperkuat integrasi kawasan sekaligus mendorong peralihan masyarakat ke transportasi massal.
Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk, resmi menghadirkan Stasiun Jatake sebagai simpul baru dalam jaringan perkeretaapian perkotaan. Kehadiran stasiun ini menjadi bagian dari arah pembangunan transportasi nasional yang semakin kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Menteri Perhubungan Republik Indonesia Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pembangunan Stasiun Jatake tidak lagi dipandang semata sebagai penyediaan infrastruktur fisik. Transportasi massal, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang hidup yang lebih manusiawi dan inklusif bagi masyarakat.
“Pembangunan transportasi publik bukan sekadar investasi infrastruktur, melainkan investasi sosial yang manfaatnya harus dirasakan seluruh masyarakat,” ujar Dudy.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa pembangunan dan pengoperasian Stasiun Jatake merupakan wujud komitmen KAI dalam mendukung kebijakan pemerintah terkait penguatan ekosistem transportasi massal berbasis kolaborasi dan integrasi kawasan.

“Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing bersama PT Bumi Serpong Damai Tbk dengan pendekatan Transit Oriented Development. Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem transportasi yang terintegrasi dengan pertumbuhan wilayah,” ujar Bobby.
Ia menambahkan, stasiun ini memiliki luas bangunan 3.198 meter persegi dengan peron sekitar 300 meter persegi dan terdiri dari tiga lantai. Kapasitas pelayanan mencapai 20.000 penumpang per hari, didukung frekuensi perjalanan Commuter Line dengan headway 5–10 menit. Stasiun ini juga dilengkapi fasilitas parkir, integrasi antarmoda, serta ruang pengembangan lanjutan turut disiapkan guna memastikan keberlanjutan mobilitas masyarakat sekitar.