Slow traveling mengajak kita melambat dan menikmati setiap momen perjalanan. Cocok bagi kita yang ingin menikmati perjalanan dengan santai sekaligus menyerap budaya dan suasana lokal secara lebih mendalam.
Jika banyak orang berupaya mengunjungi sebanyak mungkin destinasi wisata saat berlibur, slow traveling justru mengajak kita untuk melambat dan menikmati setiap momen perjalanan. Konsep ini mengajak kita untuk tak terburu-buru mencentang itinerary, melainkan tinggal lebih lama di suatu tempat dan mengenal lebih dalam budaya lokal masyarakat setempat.
Pakar perjalanan sekaligus travel blogger, La Carmina mendefisinisikan slow traveling sebagai pendekatan meditatif dalam bepergian. Pendekatan ini mengajak kita untuk hadir sepenuhnya dalam setiap perjalanan. Mengenal budaya lokal masyarakat setempat secara lebih dalam akan menciptakan pengalaman dan kenangan berharga untuk dibawa pulang.
Kalegowa – Sulawesi Selatan

Tersembunyi di kaki perbukitan Gowa, Kalegowa menawarkan suasana pedesaan Bugis yang tenang. Di tempat ini kita bisa menyusuri jalan setapak di antara sawah dan menyaksikan aktivitas warga, mulai dari menanam dan memanen padi, memberi makan ternak, hingga belajar membuat kerajinan lokal seperti tenun atau anyaman bambu. Pada sore hari, kita bisa mengisinya dengan menikmati kopi lokal atau berbincang santai dengan warga setempat.
Ende – Nusa Tenggara Timur

Ende menawarkan suasana kota kecil yang tenang dan ritme hidup yang santai. Jalan-jalan di tepi pantai atau menyusuri desa memberi kesempatan menikmati kehidupan lokal dengan perlahan. Di sini kita bisa mengunjungi Taman Renungan Bung Karno, memancing di laut, ikut memasak bersama warga, atau menjelajahi desa sekitar untuk mengenal budaya Flores lebih dekat. Kita juga bisa mendaki bukit menuju Danau Kelimutu atau sekadar bersantai di penginapan.
Tomohon – Sulawesi Utara

Tomohon menawarkan udara sejuk pegunungan dan ritme hidup yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Jalan-jalan di antara kebun bunga, pasar tradisional, atau tepi Danau Linow memberi kesempatan menikmati kehidupan lokal dengan perlahan. Di sini kita bisa menyusuri pasar sayur dan bunga sejak pagi, berjalan ringan ke Gunung Lokon atau Gunung Mahawu, atau ikut kelas kerajinan bambu dan anyaman bersama warga setempat
Kepulauan Kei – Maluku Tenggara

Di Kepulauan Kei, waktu terasa lebih lambat. Di tempat ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan laut, seperti menangkap ikan dengan teknik tradisional atau belajar menyiapkan hidangan laut segar. Pantai-pantai sepi dengan pasir halus menjadi tempat sempurna untuk berjalan tanpa tujuan sambil mendengar deburan ombak. Destinasi wisata ini juga memiliki tradisi unik yang dikenal Meti Kei, sebuah festival budaya yang tentunya jarang kita saksikan.