Tiga Dekade Bersama Kereta Api

Share this article

Baginya, merawat sarana bukan sekadar memastikan kereta tetap berjalan, tetapi menjaga kepercayaan jutaan pengguna yang setiap hari mengandalkan KRL untuk beraktivitas.

Perjalanan Cepi Budiman di dunia perkeretaapian bermula dari rasa ingin tahu. Saat mendaftar program pendidikan beasiswa KAI di Institut Teknologi Bandung pada 1993, ia termasuk salah satu peserta yang belum pernah naik kereta api. Rumahnya yang jauh dari stasiun membuat moda transportasi tersebut terasa asing baginya.

“Waktu itu saya belum pernah naik kereta api.  Karena penasaran, saya tertarik untuk mengenalnya lebih jauh,” kenangnya.

Setelah merampungkan pendidikan Teknik Elektro ITB pada 1996, ia memulai kariernya di KAI sebagai staf kelistrikan yang menangani kereta pembangkit. Kariernya kemudian membawanya bertugas di berbagai wilayah dan unit kerja, mulai dari Sumatera, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, hingga Direktorat Keselamatan.

 

Dari Standarisasi hingga Kalibrasi

Setelah lebih dari tiga dekade berkecimpung di bidang sarana perkeretaapian, banyak pengalaman berharga yang membekas dalam ingatannya. Salah satunya saat ia terlibat dalam penyusunan Network Planning Perawatan (NWP), sebuah panduan perawatan yang mencakup berbagai jenis sarana perkeretaapian.

Pengalaman berkesan lainnya adalah ketika ia berhasil merancang Tabel Tenaga Pemeriksa Kereta Api. Melalui tabel ini, petugas di lapangan dapat menerjemahkan kondisi operasional menjadi dokumen yang terstruktur, sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan sesuai standar yang berlaku.

Selain itu, ia juga berkontribusi dalam pengembangan sistem verifikasi internal untuk alat ukur atau kalibrasi. Inovasi ini membuat proses perawatan menjadi lebih efisien karena tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal.

“Proses kalibrasi di eksternal bisa memakan waktu 3-5 hari. Biaya yang dikeluarkan juga cukup besar. Setelah kami memiliki kalibrasi sendiri, waktu dan biaya bisa dipangkas sehingga lebih efisien.”

Dari Preventif Menuju Prediktif Maintenance

Ketika dipercaya menjadi VP Rolling Stock KAI Commuter pada 2023, Cepi merasa seolah kembali ke masa lalu. Ingatan itu membawanya pada masa kuliah di ITB, saat ia menyusun tugas akhir mengenai KRL. Sejak lulus, perjalanan kariernya justru banyak dihabiskan di berbagai bidang sarana selain KRL.

“Tiga puluh tahun kemudian saya justru kembali ke KRL. Rasanya seperti kembali pada apa yang pernah saya pelajari dulu.”

Di posisi barunya, ia bertugas memastikan keandalan sarana melalui evaluasi program perawatan, inspeksi, serta mitigasi terhadap komponen yang mengalami penurunan performa. Menurutnya, kondisi sarana akan terus berubah seiring usia dan intensitas operasi, sehingga pemantauan dan perbaikan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar keandalan armada tetap terjaga.

“Kami juga mendorong agar Dipo KAI Commuter menjadi Dipo Digital. Ini penting karena seluruh armada baru sudah berbasis digital. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mengubah pola kerja, dari preventive maintenance menuju predictive maintenance.”

 

Terus Sehat dan Semangat

Di tengah berbagai upaya untuk memastikan keandalan sarana perkeretaapian, Cepi meyakini bahwa kesehatan, semangat, dan kebersamaan menjadi kunci utama keberhasilan. Oleh karena itu, ia berpesan kepada seluruh insan KAI Commuter untuk terus menjaga kesehatan, semangat kerja, dan memperkuat kolaborasi.

“Kita harus punya semangat yang sama untuk mendukung visi dan misi perusahaan. Dengan kebersamaan, tantangan sebesar apa pun akan lebih mudah dihadapi.”