Dari Kabin Truk ke Kabin Masinis

Share this article

Jalan raya pernah menjadi bagian hidupnya.  Kini, rel kereta mengajarkannya arti tanggung jawab dan keselamatan.

Bila melihat Zanuardi Nugroho mengoperasikan Commuter Line hari ini, tak banyak yang menyangka bahwa hingga akhir 2012 ia masih menghabiskan hari-harinya di balik kemudi truk. Jalanan lintas kota hingga lereng Merapi pernah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia mengangkut pasir, batu, semangka, hingga kerajinan dari Klaten menuju Denpasar, Jakarta, atau Bandung.

Kecintaannya pada truk tumbuh sejak kecil. Bahkan saat duduk di bangku SMP, ia sudah belajar mengemudikan truk milik ayahnya. Namun, ketika masih bersekolah di STM, sang ayah meninggal dunia sehingga truk tersebut harus dijual. Profesi sebagai sopir ia jalani dengan mengendarai truk milik tetangganya.

“Kalau ada permintaan, saya narik dari siang hingga malam. Intinya malam harus di rumah karena besok pagi harus bersekolah.”

Tiga tahun selepas menamatkan pendidikan STM, hidupnya tak pernah jauh dari jalan raya. Relasi dengan sesama sopir terus bertambah dan orderan datang silih berganti. Saat itu, cita-citanya sederhana, yakni menjadi sopir bus. Menjadi masinis tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Ajakan yang Mengubah Arah Hidup

Titik balik itu datang dari seorang teman yang mengajaknya mengikuti rekrutmen KAI. “Saya daftar karena diajak teman. Berkas pendaftaran pun dibantu teman karena saat itu saya tidak bisa komputer.”

Setelah lolos seleksi administrasi, ia berangkat dari Yogyakarta menuju Stasiun Jakarta Kota untuk mengikuti rangkaian tes. Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia melihat KRL. Bentuk kereta KRL membuatnya heran karena berbeda dengan kereta yang selama ini ia kenal.

“Kok keretanya pesek ya, tidak ada moncongnya. Kereta yang saya kenal adalah kereta jarak jauh yang ada lokomotifnya.”

Tanpa target muluk dan mengalir saja, ia menjalani setiap tahapan seleksi, mulai dari psikotes hingga pemeriksaan kesehatan. Tak disangka, seluruh proses berhasil dilaluinya. Pengumuman kelulusan itu menjadi awal perjalanan baru yang mengubah hidupnya.

 

Belajar Memikul Tanggung Jawab

Kabar kelulusan itu sempat membuat Zanuardi berada di persimpangan. Di satu sisi, ia telah memiliki pekerjaan yang mapan sebagai sopir truk dengan relasi dan order yang terus berdatangan. Di sisi lain, kesempatan menjadi masinis menawarkan masa depan yang lebih pasti bagi dirinya dan keluarga.

“Saya sempat dilema. Tapi saya pikir ini demi keluarga. Ada masa depan yang lebih terjamin, akhirnya saya memilih kereta api,” ujarnya.

Keputusan itu menjadi awal perjalanan baru. Setelah mengikuti pendidikan, praktik di dipo, hingga berdinas sebagai asisten masinis, ia mulai memahami besarnya tanggung jawab profesi yang dijalani. Membawa ribuan penumpang setiap hari membuatnya menyadari bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan amanah yang harus dijaga dalam setiap perjalanan.

Keselamatan Adalah Amanah

Empat belas tahun menjalani profesi sebagai masinis semakin menguatkan keyakinan Zanuardi bahwa tugasnya bukan sekadar mengoperasikan Commuter Line, melainkan mengantarkan ribuan penumpang, banyak di antaranya merupakan tulang punggung keluarga. Kesadaran itulah yang membuatnya selalu mengutamakan keselamatan.

“Karena yang terdampak bukan hanya penumpang, tetapi juga keluarganya. Karena itu, dalam bekerja, keselamatan selalu menjadi prioritas, salah satunya dengan mamatuhi SOP.”