Penataan organisasi dan pengembangan kompetensi menjadi bagian dari langkah KAI Commuter menyiapkan SDM yang adaptif di tengah perluasan cakupan layanan perusahaan.
Peralihan pengelolaan KA Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada 17 September 2026 menambah cakupan layanan yang dikelola oleh KAI Commuter. Layanan yang sebelumnya dikelola KAI Bandara itu kini beroperasi dengan nama Commuter Line Bandara YIA. Layanan KAI Commuter juga semakin meluas seiring dengan rencana integrasi LRT Jabodebek ke dalam perusahaan.
Bertambahnya layanan yang dikelola KAI Commuter membawa kebutuhan baru dalam pengelolaan SDM. Vice President Human Capital KAI Commuter Indriyani menjelaskan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penataan organisasi agar tidak terjadi tumpang tindih jabatan antara KAI Commuter dan unit layanan yang baru dikelola. Penempatan pekerja juga perlu mempertimbangkan fungsi dan tingkat jabatan yang sesuai.
Selama masa transisi, pekerja yang dialihkan tidak serta-merta ditempatkan ke dalam struktur baru. Untuk KA Bandara YIA, perusahaan menyiapkan penempatan sementara pada fungsi tertentu sembari menunggu penataan organisasi ditetapkan. Langkah ini memungkinkan operasional tetap berjalan selama proses penyesuaian berlangsung.
“Kalau dari SDM, yang paling terasa justru penempatan orang-orangnya. Penataan tersebut membutuhkan pemetaan lebih lanjut agar struktur, posisi, dan kompetensi pekerja dapat diselaraskan dengan kebutuhan layanan.”

Menyelaraskan Sistem dengan Kebutuhan
Indriyani menambahkan, langkah berikutnya ialah memastikan pengelolaan SDM tetap selaras dengan kebutuhan layanan yang semakin beragam. Dalam hal ini, KAI Commuter mengacu pada sistem yang berlaku di lingkungan KAI Group, mencakup grading, remunerasi, kamus kompetensi, talent pool, dan penilaian kinerja. Sistem tersebut menjadi kerangka bersama dalam pengelolaan pekerja, termasuk di tengah perkembangan cakupan layanan perusahaan.
Meski mengacu pada sistem yang sama, setiap layanan memiliki karakteristik operasional dan tuntutan pelayanan yang berbeda. Commuter Line, KA Bandara, dan LRT memiliki karakter operasional serta kebutuhan pelayanan masing-masing. Karena itu, pelatihan dan pengembangan kompetensi perlu disesuaikan dengan profil jabatan serta kebutuhan operasional setiap layanan.
“Secara garis besar, grading dan kompetensinya harus sama. Tetapi untuk pelaksanaan, seperti pelatihan dan pengembangannya, tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.”

Membuka Ruang Mobilitas Talenta
Lebih jauh Indriyani menjelaskan, sistem pengelolaan SDM yang terintegrasi di lingkungan KAI Group juga membuka peluang mobilitas talenta. Melalui mekanisme talent pool, pekerja KAI Commuter dapat memperoleh penugasan di entitas lain tanpa mengubah status kepegawaiannya.
Mobilitas pegawai semakin relevan seiring dengan perkembangan bisnis KAI Group. Melalui penugasan antarentitas, pekerja berkesempatan memperluas pengalaman dan kompetensi, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan organisasi yang semakin beragam. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis tidak hanya mendorong perluasan layanan, tetapi juga membuka peluang pengembangan talenta di lingkungan KAI Group.
“Tentunya, kami di Divisi HC berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan bisnis perusahaan melalui pengembangan kompetensi pegawai yang selaras dengan kebutuhan layanan dan karakteristik masing-masing daerah.”