Kerja sama, strategi, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi mengantarkan dua Insan KAI Commuter meraih posisi kedua sekaligus mengibarkan Merah Putih di Rusia.
Tidak banyak waktu yang dimiliki Muchamad Arif Sasmita untuk mempersiapkan diri sebelum bertolak ke Rusia. Sebagai expert, Arif harus memilih kompetitor yang akan berlaga dalam Final of The Professional Championship International Railway Maintenance Skill pada 21–26 Agustus 2026. Dari sejumlah kandidat, Ahmad Luthfi Azmi terpilih karena memiliki keterampilan teknis yang baik, kemampuan bahasa Inggris, serta kesiapan mental untuk berkompetisi di tingkat internasional.
Waktu sekitar tiga bulan dimanfaatkan keduanya untuk berlatih dan menyusun strategi. Di antara 22 peserta dari 22 negara, Luthfi menguji kemampuan teknisnya, sementara Arif mendampingi, memberikan arahan, dan bertugas sebagai juri bagi peserta negara lain.
Bagi Arif, tujuan utama mereka bukan sekadar membawa pulang medali. Ada kebanggaan yang ingin diwujudkan melalui keikutsertaan tersebut.
“Tujuan paling utama itu mengibarkan bendera, karena di sana yang paling prestisius menurut kami bukan medali, tetapi mengibarkan bendera Indonesia di podium,” ujarnya.

Beradaptasi dengan Cara yang Berbeda
Pengalaman kerja sehari-hari tidak serta-merta membuat kompetisi berjalan mudah. Teknologi dan peralatan di Rusia memiliki perbedaan dengan yang biasa digunakan di Indonesia. Sistem persinyalan, karakteristik jalur rel, hingga perangkat perawatan menuntut Luthfi mempelajari kembali cara kerja yang telah dikenalnya.
Beberapa peralatan bahkan baru pertama kali ia temui. Kesempatan untuk mengenali dan mencoba alat sebelum perlombaan menjadi bekal penting baginya. Di sisi lain, Arif memanfaatkan pertemuan para expert untuk mempelajari modul serta metode penilaian yang digunakan.
Terdapat empat modul dengan bobot penilaian berbeda. Keduanya menyusun strategi untuk memaksimalkan poin pada modul berbobot besar tanpa mengabaikan keseluruhan pekerjaan. Setiap pagi, mereka berdiskusi mengenai tahapan kerja, standar yang perlu diingat, dan aspek yang harus diperhatikan Luthfi.
“Prinsip waktu itu, kita bukan melawan mereka, bukan melawan kontestan-kontestan lain, tetapi kita melampaui diri kita, atau melampaui masing-masing diri kita agar bisa perform lebih maksimal,” kata Arif.

Saling Menguatkan di Arena Kompetisi
Selain keterampilan teknis, kesiapan mental menjadi perhatian penting. Arif berupaya menjaga kepercayaan diri Luthfi agar tetap tenang dan fokus menghadapi perbedaan peralatan maupun metode kerja.
Setiap modul harus diselesaikan dalam waktu tiga hingga enam jam. Tantangan bahasa turut mewarnai perlombaan karena instruksi dan dokumen menggunakan bahasa Rusia. Bantuan penerjemah menjadi sarana bagi peserta untuk memahami kebutuhan selama kompetisi.
Kerja sama keduanya akhirnya mengantarkan Indonesia meraih posisi kedua. Bagi Arif, pengalaman di Kaluga menjadi pembelajaran sekaligus motivasi untuk mendorong lebih banyak insan perkeretaapian Indonesia berani tampil di tingkat internasional.
“Semoga ini bisa menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berharga, baik bagi kami maupun rekan-rekan lainnya. Ini bisa menjadi motivasi bahwa kita bisa go international,” ujarnya.