Kartini Masa Kini dari Bidang Transportasi

Share this article

Bila hari ini perempuan Indonesia dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya, berkarier di bidang apa pun, hingga menempati posisi tertinggi baik di dalam korporasi maupun pemerintahan, semua hal tersebut tidak lepas dari perjuangan Raden Adjeng Kartini. Menyandang gelar Raden Adjeng, Kartini merupakan sosok yang berasal dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa.

Lahir di Jepara pada 21 April 1879, ia menempuh pendidikan sekolah dasarnya di Europesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Eropa, pada 1885. Selepas menamatkan pendidikan ELS pada 1892, Kartini yang genap berusia 12 tahun tidak diperkenankan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Layaknya perempuan pada masa itu, Kartini diwajibkan untuk dipingit dan dipersiapkan menjadi ibu rumah tangga.

Perjuangan Kartini dalam mengupayakan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki salah satunya dapat dilihat dari persyaratan yang diajukannya ketika hendak dinikahkan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Kepada keluarga dan calon suaminya, Kartini memberikan syarat agar dalam proses upacara pernikahan tidak ada proses jongkok, berlutut, dan menyembah kaki mempelai laki-laki. Syarat ini menegaskan bahwa ia ingin agar perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama.

Upaya Kartini untuk melepaskan belenggu bagi kaum perempuan, terutama belenggu kebodohan, dilakukannya dengan mendirikan sekolah putri di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, bangunan tersebut kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Wafat pada usia 25 tahun, semangat perjuangan Kartini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia.

Bagi perempuan Indonesia, Raden Adjeng Kartini merupakan simbol perjuangan. Sebuah perjuangan yang dilakukan dengan hati dan pikiran agar perempuan Indonesia terlepas dari belenggu keterbatasan dan mendapatkan hak-hak yang setara dengan kaum pria. Berkat perjuangannya, hari ini, perempuan Indonesia tidak lagi dipandang sebagai masyarakat kelas dua, melainkan sebagai manusia utuh yang memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan potensi di berbagai bidang.

Berikut pandangan Insan KAI Commuter mengenai makna Kartini dan harapan mereka bagi seluruh Perempuan di Indonesia.

Gadies Aprilla Niranti – Protocol Junior Specialist KAI Commuter

Lebih Kuat dan Semangat Menghadapi Dinamika Kehidupan

“Ibu Kartini merupakan simbol tauladan sekaligus perjuangan di mana di dalamnya terdapat kekuatan pemikiran, semangat, dan ketulusan hati. Perjuangan beliau menginspirasi perempuan Indonesia untuk belajar lebih proaktif, yakni bekerja dengan lebih responsif serta ketulusan hati.

Perempuan Indonesia harus terus belajar untuk menyeimbangkan perubahan yang terjadi. Saya berharap, di momen peringatan Hari Kartini ini, kita semua dapat lebih bersemangat dan lebih kuat untuk menghadapi dinamika kehidupan di era global ini. Semangat terus perempuan Indonesia!”

Ranika Herlina  – GCG dan QA Assistent Manager KAI Commuter

Memberi Warna dalam Banyak Sisi Kehidupan

“Saat ini, perempuan mandiri lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki mandiri. Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak kalah unggul dibandingkan dengan laki-laki. Namun, menjadi Kartini bukanlah menjadi sosok yang mampu memberi warna dalam pekerjaan saja, tetapi juga mewarnai bidang-bidang lain, terutama di bidang sosial.

Sebagai seseorang yang cukup vokal mengampanyekan Kursi Prioritas di Commuter Line, tidak jarang saya melihat para Kartini muda yang enggan memberikan kursinya kepada yang lebih membutuhkan. Padahal menjadi Kartini masa kini bukan hanya tentang kemampuan untuk berprestasi, menjadi manusia yang independen, tidak hanya mampu menghasilkan pendapatan yang baik, tetapi juga harus memberikan warna dalam banyak sisi kehidupan.”

Fitri Kusumo  – Vice President of Infrastructure  KAI Commuter

Perempuan Harus Mandiri dan Memiliki Visi Hidup

“Kartini merupakan sosok pendobrak. Kartini menginspirasi perempuan Indonesia bahwa kita bisa melakukan banyak hal. Kalau dulu perempuan dipandang sebelah mata, hari ini perempuan memiliki hak dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, tentunya sesuai dengan porsinya.

Saya bekerja di bidang prasarana kereta api, sebuah profesi yang male dominated. Namun, saya dapat bekerja dan diterima dengan baik oleh Insan KAI Commuter. Dalam bekerja, pemimpin perempuan tidak harus selalu patuh dan mengikuti pemimpin laki-laki. Penting bagi kita untuk menyuarakan fakta dan memiliki kekuatan untuk bersikap.

Saya berharap perempuan bisa mandiri, berdiri dengan kaki sendiri, memiliki karakter yang kuat, serta punya visi dan misi sendiri. Dalam konteks rumah tangga, menjadi mandiri dan memiliki visi bukan berarti harus berjalan sendiri-sendiri. Bukan juga berjalan di belakang atau di depan, melainkan berdiri sejajar dan berjalan berdampingan.”