Seragam bekas tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Di KAI Commuter, pakaian kerja yang tak lagi digunakan dan Kartu Multi Trip yang kedaluwarsa diolah kembali menjadi produk bernilai.
Community dan Event Specialist 2 KAI Commuter Donda Naibaho menuturkan, melalui program Commuter Recycle, pakaian kerja yang tak lagi dipakai diolah menjadi kain batik, sementara Kartu Multi Trip (KMT) yang sudah tidak digunakan bertransformasi menjadi paving block.
Program ini berawal dari pertanyaan sederhana: ke mana seragam lama para pegawai setelah perusahaan mendistribusikan seragam baru? Selain berpotensi menjadi limbah tekstil, seragam yang masih memuat identitas perusahaan juga perlu dikelola dengan baik agar tidak disalahgunakan.
“Kami ingin seragam itu tidak berhenti menjadi limbah. Selain mengurangi sampah tekstil, program ini juga menjaga keamanan atribut perusahaan sekaligus mendukung keberlanjutan,” ujar Donda.
Dari Seragam Bekas Menjadi Manfaat
Pada pelaksanaan perdana, program Commuter Recycle berhasil menghimpun 144,05 kilogram seragam bekas yang kemudian diolah menjadi 306 meter kain tenun dan 14 panel peredam. Sementara, 956 kilogram limbah Kartu Multi Trip (KMT) disulap menjadi 352 paving block.
Memasuki tahun kedua, jumlah seragam yang terkumpul meningkat menjadi 200 kilogram. Jika pada periode pertama pengumpulan hanya mencakup seragam R6, kini seluruh seragam berbahan katun turut didaur ulang sehingga memberikan dampak yang lebih besar.
Proses daur ulang diawali dengan melepaskan seluruh atribut dan kancing pada seragam. Kain kemudian diolah menjadi serat, ditenun kembali menjadi lembaran kain, dan dimanfaatkan menjadi berbagai produk baru yang bernilai.

Mengolah Limbah Menjadi Identitas
Donda menambahkan, alih-alih mengolah limbah tersebut menjadi produk yang umum seperti dompet atau pouch, KAI Commuter memilih menghadirkan sesuatu yang lebih bermakna. Kain hasil daur ulang kemudian diproses menjadi Batik Harmoni Commuter, motif batik yang dirancang khusus dengan mengangkat identitas perusahaan dan kini tengah didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual.
Pilihan tersebut memadukan dua nilai sekaligus, yaitu kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya Indonesia. Batik hasil daur ulang kini menjadi cendera mata bagi tamu-tamu VIP KAI Commuter, membawa cerita tentang keberlanjutan dalam setiap helai kain yang diberikan.
Semangat yang sama diterapkan pada limbah KMT. Setelah melalui proses pengolahan, kartu-kartu yang sudah tidak digunakan diubah menjadi paving block yang dimanfaatkan kembali untuk mendukung fasilitas perusahaan.
Membangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Program
Di balik berbagai produk yang dihasilkan, tujuan terbesar Commuter Recycle adalah membangun cara pandang baru. KAI Commuter ingin menanamkan kesadaran bahwa setiap barang yang telah selesai digunakan masih memiliki peluang untuk memberi manfaat apabila dikelola dengan tepat.
Commuter Recycle disiapkan sebagai program tahunan dengan roadmap pengembangan selama lima tahun. Ke depan, inisiatif ini akan diperluas hingga pengelolaan limbah elektronik dan pelibatan pelanggan melalui program pengumpulan botol plastik di stasiun.
“Bagi kami, yang terpenting adalah mengubah pola pikir. Aksi kecil, seperti mengumpulkan seragam bekas, ternyata bisa memberi dampak besar bagi lingkungan, perusahaan, bahkan masyarakat. Itulah budaya keberlanjutan yang ingin terus kami bangun.”