Tiga orang dengan karakter dan kemampuan berbeda bertemu dalam satu tim. Bersama, mereka belajar bahwa inovasi bukan hanya soal menemukan solusi, tetapi juga tentang saling melengkapi.
Ada istilah frekuensi yang digunakan Dimas Saputra ketika bercerita tentang Tim Omega (Orang Manggarai Emang Ganteng Abis). Bukan sekadar istilah teknis yang dekat dengan pekerjaan mereka di unit instalasi kontrol, tetapi cara sederhana untuk menggambarkan bagaimana ia, Ahmad Nur Azis Safaat, dan Muhammad Fajar Anshori bekerja bersama sebagai satu tim.
“Namanya frekuensi terkadang naik turun. Jadi, ketika saya dan Aziz sudah mau slack, nanti Fajar datang dan menyelaraskan lagi frekuensinya,” ujar Dimas.
Omega sendiri awalnya hanya beranggotakan Dimas dan Azis. Keduanya pernah berkolaborasi dalam Rolling Stock Award. Ketika inovasi tersebut berlanjut ke CIC dan membutuhkan anggota tambahan, Fajar kemudian bergabung. Meski datang dengan pengalaman dan karakter berbeda, ketiganya menemukan cara untuk saling mengisi.
Azis dan Dimas banyak berperan dalam pengembangan konsep alat. Fajar kemudian memperkuat sisi pengembangan fitur sekaligus persiapan kompetisi. Pengalaman masing-masing menjadi bekal untuk mengerjakan bagian yang berbeda, tanpa kehilangan tujuan yang sama.
Ketika Pekerjaan dan Inovasi Berjalan Bersama
Membuat inovasi tentu bukan tugas yang bisa begitu saja menggantikan pekerjaan utama. Ketiganya tetap harus menjalankan tanggung jawab masing-masing. Bahkan dalam proses persiapan CIC, mereka sempat berada di tempat berbeda karena urusan pekerjaan dan keluarga.
“Namun, karena berada dalam satu ruas, koordinasi relatif lebih mudah. Ketika salah satu sedang sibuk, yang lain mengambil bagian yang bisa dikerjakan,” ujar Aziz.
Prosesnya memang tidak selalu mulus. Dimas pernah mengalami sendiri bagaimana alat yang sedang diuji tiba-tiba meledak setelah beberapa detik dinyalakan. Komponen kemudian diganti dan alat kembali dikerjakan hingga siap mengikuti tahapan berikutnya.

Lebih dari Sekadar Kompetisi
Bagi Omega, CIC bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang untuk berkembang. Dimas yang sebelumnya belum banyak memahami penyusunan makalah mendapat pengalaman baru. Aziz memperoleh kesempatan memperluas jejaring dengan para inovator dari berbagai unit. Sementara, Fajar dapat membagikan pengalaman dari kompetisi sebelumnya.
Beragam pengalaman itu akhirnya bertemu dalam satu proses yang sama: bekerja sebagai tim. Dari sinilah mereka belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik, setiap orang tidak harus memiliki semua kemampuan.
“Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kita bisa menyatukan kemampuan agar menjadi sempurna,” kata Dimas.
Bagi Omega, pengalaman tersebut juga mengubah cara mereka memandang inovasi. Inovasi tidak semestinya hanya hadir ketika ada kompetisi, tetapi perlu tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian.
“Baiknya, inovasi itu jangan hanya diniatkan dalam hal ikut kompetisi saja. Namun inovasi itu sebisa mungkin memang menjadi bagian dari keseharian kita,” tegas Fajar.