Peringatan 100 Tahun KRL menandai perjalanan panjang transformasi kereta listrik di Tanah Air sekaligus mencerminkan semangat, kerja keras, dan dedikasi untuk melayani masyarakat Indonesia.
Kedatangan lokomotif listrik ESS 3200 di Stasiun Jakarta Kota disambut tepuk tangan oleh ratusan Railfans (Pencinta Kereta Api). Hadirnya lokomotif yang populer dikenal sebagai Si Bon-Bon yang menarik dua kereta Djoko Kendil, kereta api mewah yang dibeli Staats Spoorwegen pada 1938 dari pabrik Beynes, Belanda, ini menandai puncak acara peringatan 100 tahun beroperasinya Kereta Rel Listrik (KRL) di Indonesia.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Didiek Hartantyo mengatakan, KRL sudah beroperasi di Indonesia sejak 6 April 1925 dengan nama Elektrische Staatsspoorwegen dan dikelola oleh Staats Spoorwagen, perusahaan kereta api milik Hindia Belanda. Sejak satu abad yang lalu, KRL telah menghubungkan Stasiun Tanjung Priok dengan Stasiun Meester Cornelis, saat ini dikenal sebagai Stasiun Jatinegara.
Dalam memperingati 100 tahun beroperasi KRL di Indonesia, KAI Commuter mengangkat tema “100 Years of KRL: The Everlasting Urban Transport” atau “KRL Angkutan Perkotaan Nyang Kagak Ade Matinye”. Menurut Didiek, tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Tema ini mencerminkan ketahanan dan inovasi KRL dalam menjawab tantangan zaman, yakni kemacetan, polusi, hingga kebutuhan transportasi yang ramah lingkungan sekaligus efisien.
“KRL sebagai transportasi listrik berperan besar dalam menurunkan emisi karbon di kawasan perkotaan. KRL juga berperan meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan khususnya dari sektor transportasi,” ucap Didiek dalam puncak peringatan 100 Tahun KRL yang diselenggarakan di Stasiun Jakarta Kota pada 22 April 2025.
Didiek menambahkan, upaya menghadirkan transportasi publik yang ramah lingkungan sejalan dengan visi PT KAI, yakni Driving Sustainable Transportation, Enhancing People’s Live. Melalui visi ini, PT KAI berkomitmen untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan menghadirkan transportasi publik yang ramah lingkungan, efisien, dan terjangkau.
Menyatukan Daerah dan Mempermudah Mobilisasi Masyarakat
Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto dalam acara tersebut menyampaikan bahwa peringatan satu abad beroperasinya KRL merupakan hari yang istimewa. Peringatan ini menandai tonggak sejarah perjalanan panjang KRL sekaligus mencerminkan semangat, kerja keras, dan dedikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam melayani masyarakat dan upaya membangun transportasi perkotaan efisien, aman, dan ramah lingkungan.
“KRL bukan sekadar transportasi. KRL adalah saksi bisu perkembangan zaman dalam menyatukan berbagai daerah, mempermudah mobilitas masyarakat, dan menjadi denyut nadi ekonomi perkotaan maupun bangsa,” ucap Asdo.
Asdo menambahkan, pascakemerdekaan Republik Indonesia, perusahaan kereta api nasional yang dikelola oleh Perum Jawatan Kereta Api (PJKA) telah melakukan berbagai pembaruan. Pada 1976, PJKA menghadirkan KRL Rheostatik buatan Nippon Sharyo, Hitachi, dan Kawasaki untuk melayani kelas KRL Ekonomi. Kereta ini beroperasi hingga 1986 dan kemudian digantikan oleh KRL Rheostatik generasi kedua.
Seiring pemekaran Kota Depok pada 1999, lanjut Asdo, PT KAI melalui Divisi Jabodetabek menghadirkan KRL Jabodetabek. Pada 2008, PT KAI melakukan restrukturisasi yang mengubah nama Divisi Jabodetabek menjadi KAI Commuter Jabodetebek yang pada September 2017 berubah menjadi PT Kereta Commuter Indonesia. Tahun 2021 menjadi sejarah baru bagi KAI Commuter. Pada tahun tersebut, KAI Commuter dipercaya mengelola KRL di wilayah Yogyakarta, kemudian Surabaya, dan Commuter Line Basoetta.
“Dalam perjalanan panjang ini, kita sudah melewati berbagai tantangan, mulai dari teknologi yang terus berkembang, perubahan sosial, hingga dinamika sosial. Namun berkat komitmen dan kerja sama semua pihak, KRL tetap hadir sebagai pilihan utama masyarakat,” ucap Asdo.
Napak Tilas, Fun Run, hingga Parade KRL
100 tahun beroperasinya KRL di Indonesia diperingati oleh KAI Commuter dengan beragam acara, mulai dari napak tilas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ubrug, Fun Run, Parade KRL, hingga Edutrain yang akan dilaksanakan di Depo KRL Depok selama dua hari, yakni pada 7-8 Mei 2025.
Berkolaborasi dengan Indonesian Railways Preservation Society, napak tilas ke PLTA Ubrug, bertujuan untuk mengenal lebih dekat pembangkit listrik yang memiliki sejarah penting dalam beroperasinya kereta listrik di Tanah Air. PLTA yang berlokasi di Sukabumi ini dibangun oleh Belanda pada 1923, sesaat setelah Bendungan Randu selesai dibangun. Mulai beroperasi pada 1924, PLTA ini memiliki tiga buah pembangkit dengan kapasitas 18 megawatt.
Peringatan 100 Tahun KRL juga dimeriahkan dengan Fun Run. Dilaksanakan pada Minggu, 13 April 2025, Fun Run yang dimulai dari Stasiun Juanda dengan garis finish di Stasiun Jakarta Kota ini diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari PT KAI Group dan tamu undangan.
Perayaan 100 tahun beroperasinya KRL di Indonesia semakin meriah dengan acara Parade KRL. Selain menampilkan lokomotif listrik ESS 3200 dan Djoko Kendil, parade ini juga menghadirkan KRL 8500 Tokyu produksi Jepang, serta kereta terbaru dari CRRC China dan PT INKA.
“Dalam parade ini kita tidak hanya menyaksikan kereta yang pernah dan masih beroperasi di Indonesia, tetapi juga menyaksikan jejak perjalanan panjang sistem perkeretaapian listrik yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita, terutama masyarakat di Jabodetabek,” ujar Asdo.
Lebih jauh Asdo menerangkan, KRL bukan sekadar transportasi, tetapi juga simbol mobilitas masyarakat urban. KRL juga menjadi simbol perubahan sekaligus harapan untuk masa depan. Setiap generasi KRL menjadi cerminan semangat zaman. Oleh karena itu ia berharap, rangkaian acara 100 Tahun KRL bisa menginspirasi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda untuk lebih mencintai transportasi publik.
“Semoga dedikasi kita terus menginspirasi dan kereta api Indonesia terus melaju menjadi pilihan utama transportasi masyarakat Indonesia.”

Pullquote:
“KRL bukan sekadar transportasi. KRL adalah saksi bisu perkembangan zaman dalam menyatukan berbagai daerah, mempermudah mobilitas masyarakat, dan menjadi denyut nadi ekonomi perkotaan maupun bangsa.”
Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto