KAI Commuter Mengajar mengajak anak-anak mengenal dunia perkeretaapian lewat cerita seru dan edukasi keselamatan langsung dari para Insan KAI Commuter.
Di berbagai sudut kota, rel kereta menjadi pemandangan yang akrab, bahkan bagi anak-anak. Namun, di balik laju kereta yang melintas, tersimpan dunia yang belum sepenuhnya mereka pahami, mulai dari aturan keselamatan hingga beragam profesi di dalamnya. Berangkat dari kebutuhan untuk mengenalkan dunia perkeretaapian secara lebih dekat kepada generasi muda, perusahaan menghadirkan program KAI Commuter Mengajar.
Community dan Event Specialist 2 KAI Commuter Donda Naibaho menuturkan, program ini berawal dari inisiatif pembangunan Rumah Pojok Baca di Tenjo untuk mengalihkan aktivitas anak-anak dari area rel ke ruang belajar yang lebih aman. Dari program tersebut, KAI Commuter kemudian mengembangkan pendekatan TJSL yang lebih terstruktur.
“Jadi, keinginan kami, program TJSL tidak sekadar datang dan memberi sumbangan, tetapi juga memberikan edukasi karena satu pilar TJSL adalah pendidikan,” terang Donda.
Sejak diresmikannya kebijakan TJSL pada 2024, KAI Commuter Mengajar menjadi salah satu program utama yang dijalankan secara rutin. Tak ingin berfokus pada satu lokasi binaan, program ini kemudian diperluas dengan menjangkau sekolah-sekolah di berbagai wilayah operasional, dengan target minimal satu kegiatan setiap triwulan.

Mengajar dengan Cara yang Berbeda
Berbeda dengan kegiatan belajar formal di sekolah, KAI Commuter menghadirkan pengalaman dengan mendatangkan langsung Masinis, CSOT, Passenger Services, dan PKD ke ruang kelas. Mengenakan seragam lengkap, Insan KAI Commuter memperkenalkan profesi, menjelaskan peran, sekaligus berbagi pengalaman sehari-hari di dunia perkeretaapian.
Bagi anak-anak, kehadiran mereka bukan hal biasa. Sosok yang sebelumnya hanya mereka lihat dari kejauhan, kini berdiri di depan kelas. “Kalau saya yang mengajar, mungkin tidak didengarkan. Tapi kalau masinis yang bicara, anak-anak langsung diam dan memperhatikan. Mereka mengingat apa yang disampaikan masinis, bahkan bericata-cita menjadi masinis.”
Selain mengenalkan profesi, materi yang disampaikan juga menitikberatkan pada edukasi keselamatan. Mulai dari larangan bermain di rel, bahaya vandalisme, hingga etika menggunakan fasilitas di dalam kereta. Semua disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan interaktif, disesuaikan dengan usia peserta.
KAI Commuter Mengajar juga menghadirkan dukungan nyata bagi sekolah melalui bantuan fasilitas pendidikan seperti perlengkapan olahraga atau penunjang kegiatan belajar. Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen TJSL KAI Commuter.

Membangun Kedekatan, Menjaga Masa Depan
Lebih Jauh Donda menerangkan, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kedekatan antara masyarakat dengan transportasi publik. Proses ini dimulai dari mengenalkan, lalu menumbuhkan rasa cinta, hingga akhirnya melahirkan kepedulian untuk menjaga fasilitas dan mematuhi aturan.
Donda berharap, KAI Commuter dapat terus berkembang baik dari sisi pendanaan maupun kehadiran manajemen. Program ini juga diharapkan mampu menyasar jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan pendekatan materi yang lebih mendalam.
“Harapannya program ini terus didukung dan bisa berkembang lebih variatif. Untuk tingkat SMA, misalnya, kami ingin menghadirkan materi yang lebih dalam dengan melibatkan unit lain, seperti sarana atau HSE, sehingga tidak hanya bicara profesi, tapi juga hal yang lebih konkret dan luas.”